Pages

Kamis, 10 November 2016

Makalah Pendekatan komunikatif

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa arab bagi bangsa Indonesia tidak dianggap sebagai bahasa asing layaknya bahasa Inggris. Khususnya di kalangan orang Islam bahasa arab tidak asing didengar. Al-qur’an dn Hadits sebagai sumber hukumnya pun berbahasa arab sehingga pembelajarannya pun menjadi hal yang penting.
Banyak guru bahasa arab yang mahir dalam berbahasa aarab tetapi kurang menguasai kelas dan kurang mampu menciptakan suasasan kelas yang aktif dan kreatif. Untuk meningkatkan kulaitas pembelajaran bahasa arab, guru harus mempunyai pendekatan, metode, dan teknik tertentu. Penguasaan pengelolaan ini yang disebut kompotensi pedagokik. Guru perlu menciptakan suasana kelas yang aktif dan kreatif.
Merefleksi hal tersebut, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab adalah pendekatan komunikatif yang akan dipaparkan dalam makalah ini.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1.    Bagaimana latar belakang munculnya pendekatan komunikatif?
2.    Bagaimana asumsi bahasa menurut pendekatan komunikatif?
3.    Apa saja karakteristik pendekatan komunikatif?
4.    Bagaimana langkah-langkah penyajian pendektan komunikatif?
5.    Apa saja kekuatan dan kelemahan metode komunikatif?
C.    Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.    Untuk mengetahui latar belakang munculnya pendekatan komunikatif.
2.    Untuk mengetahui asumsi bahasa menurut pendektan komunikatif.
3.    Untuk mengetahui karakteristik pendekatan komunikatif.
4.    Untuk mengetahui langkah-langkah penyajian pendekatan komunikatif.
5.    Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan metode komunikatif.
D.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
E.    Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi:  Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang
Pada dekade 1960-an, teori linguistik struktural yang mendasari pendekatan aural-oral ditolak di Amerika Serikat. Noam Chomsky, seorang pakar linguistik Amerika Serikat yang sangat terkenal, mengalamatkan kritiknya yang tajam terhadap linguistik struktural yang dimuat dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam buku tersebut, Chomsky secara lugas menunjukan bahwa teori bahasa struktural standar saat itu terbukti tidak mampu menjelaskan karakteristik bahasa yang fundamental, kreativitas, dan keunikan setiap kalimat.
Pendekatan komunikatif lahir dari situasi pengajaran bahasa di Inggris. Pendekatan ini berakar pada tradisi linguistk dan prinsip-prinsip pengajaran yang berkembang di Eropa, kemudian landasan-landasan teoritisnya diperkuat dengan teori belajar yang dikembangkan di Amerika Utara. Dua faktor utama berpengaruh terhadap lahir dan berkembangnya pendekatan ini, yaitu surutnya popularitas metode lisan dan situasional di Inggris karena kecaman Chomsky dan makin eratnya kerja sama antara negara-negara Eropa dalam bidang kebudayaan dan pendidikan.
Chomsky mengkritik penggunaan teori behaviorisme untuk pelajaran bahasa. Dalam hal ini Chomsky menandaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, melainkan juga faktor internal. Setiap manusia memiliki innate ability, yaitu kemampuan belajar bahasa yang dibawa sejak lahir. Kemampuan bawaan ini disebut alat pemerolehan bahasa (language acquisition device (LAD)  جهار اكتساب اللغة)). Chomsky mempersoalkan relevansi dari aktivitas peniruan, pengulangan, rangsangan, dan penguatan, yang menjadi fokus perhatiaan behaviorisme.
Kecaman-kecaman Chomsky ini menyetak perhatian para ahli dan praktisi pelajaran bahasa dan mendorong mereka untuk mengevaluasi konsep-konsep pengajaran bahasa yang berlaku selama ini. Sejalan dengan nahirnya teori kognitivisme dalam psykologi, teori tata bahasa transformasi-generatif dalam linguistic, dan teori LAD dalam psyko-linguistik, muncullah beberapa pendekatan dan metode dalam pembelajaran bahasa, antara lain cognitive code learning (metode kognitif kode), silent way (metode diam), suggestive-accelerative learning and teaching- SALT (metode pembelajaran akseleratif-suggestif), the natural Approach (pendekatan alamiah), dan yang terakhir paling popular adalah The Communicative Approach (pendekatan komunikatif).

B.    Asumsi
Metode komunikatif didasarkan atas asumsi bahwa setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan “alat pemerolehan bahasa” (language acquisition device). Oleh karena itu kemampuan berbahasa bersifat kreatif dan lebih ditentukan oleh faktor internal. Oleh karena itu relevansi dan efektivitas kegiatan pembiasaan dengan model latihan stimulus-respense-inforcement dipersoalkan.
Asumsi berikutnya ialah bahwa penggunaan bahasa tidak hanya terdiri atas empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis), tapi mencakup beberapa kemampuan dalam kerangka kominikatif yang luas, sesuai dengan peran dari partisipan, situasi dan tujuan interaksi.
Asumsi yang lain ialah bahwa belajar bahasa kedua dan bahasa asing sama seperti belajar bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat pelajar. Oleh karena itu analisis kebutuhan dan minat pelajar merupakan landasan dalam pengembangan materi pelajaran.
Pandangan komunikatif tentang bahasa adalah bahwa bahasa merupakan sistem untuk menyatakan makna serta mengadakan interkasi dan komunikasi. Disamping itu, struktur bahasa menunujukkan penggunaannya secara fungsional dan komunikatif. Elemen utama dalam bahasa bukanlah strukturnya melainkan makna fungsional dan komunikatif seperti yang dimaksud dalam ujaran.
Panowo, mengutip pendapat Das (1985), mengajukan alternatif asumsi teoritis pendekatan komunikatif yang berhubungan dengan hakikat bahasa dan bagaimana orang mempelajari bahasa. Asumsi tersebut adalah:
a.    Bahasa adalah seperangkat kaidah yang harus dikuasai oleh siswa.
b.    Bahasa adalah beberapa kaidah tata bahasa yang menentukan bagaimana kalimat harus disusun dan dapat mewadahi makna.
c.    Siswa harus memiliki sejumlah kata agar dapat menyusun berbagai ragam kalimat.
d.    Jika siswa telah menguasai kaidah ketatabahasaan, ia akan dapat menggunakan bahasa dalam berbagai kegiatan komunikasi.
e.    Kaidah tata bahasa, baik secara sadar maupun ambang sadar, dapat dipelajari secara induktif.
f.    Berbagai pengetahuan mengenai kaidah ketatabahasaan, baik secara sadar maupun ambang sadar, dapat diinternalisasikan sebelum pengetahuan kaidah tersebut digunakan untuk berkomunikasi.
g.    Kaidah ketatabahasaan dipelajari dan diinternalisasikan secara berurutan dalam satu waktu ataupun pada waktu yang berbeda.

C.    Karakteristik
Kelahiran PK merupakan hasil dari sejumlah kajian tentang pemerolehan bahasa (iktisab al-lughah) dan berbagagai penelitian mengenai metode pembelajaran bahasa di Eropa dan Amerika pada 70-an. Meskipun terdapat beberapa variasi dalam penerapan PK, namun karakteristik dasarnya tetap sama.
1.    Tujuan pengajarannya ialah mengembangkan kompetensi pelajar berkomunikasi dengan bahasa target dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya atau dalam situasi kehidupan yang nyata. Tujuan PK tidak ditekankan pada penguasaan gramatika atau kemampuan kalimat gramatikal, melainkan pada kemampuan memproduk ujaran yang sesuai dengan konteks.
2.    Salah satu konsep yang mendasar dari PK adalah kebermaknaan dari setiap bentuk bahasa yang dipelajari dan keterkaitan bentuk, ragam, dan makna bahasa dengan situasi dan konteks berbahasa itu.
3.    Dalam proses belajar-mengajar, siswa bertindak sebagai komunikator yang berperan aktif dalam aktivitas komunikatif yang sesungguhnya. Sedangkan pengajar memprakarsai dan merancang berbagai pola interaksi antar siswa, dan berperan sebagai fasilitator.
4.    Aktivitas dalam kelas diwarnai secara nyata dan dominan oleh kegiatan-kegiatan komunikatif, bukan dril-dril manipulatif dan peniruan-peniruan tanpa makna (tadrib babgha’iy).
5.    Materi yang disajikan bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku teks, tetapi lebih ditekankan pada bahan-bahan otentik (berita Koran, iklan, menu, KTP, SIM, formulir, dan sejenisnya). Dari bahan-bahan otentik tersebut, pemerolehan bahasa pelajar diharapkan meliputi bentuk, makna, fungsi, dan konteks sosial.
6.    Penggunaan bahasa ibu dalam kelas tidak dilarang tetapi diminimalkan.
7.    Dalam PK, kesiapan siswa ditoleransi untuk mendorong keberanian siswa berkomunikassi.
8.    Evaluasi dalam PK ditekankan pada kemampuan menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata, bukan pada penguasaan struktur bahasa atau gramatika.
Sedangkan karakteristik pendekatan komunikatif menurut Brown yaitu:
1.    Tujuan kelas terfokus pada semua komponen kompetensi komunikatif (gramatikal, wacana, fungsional, sosio-linguistik, dan strategi).
2.    Teknik-teknik bahasa dirancang untuk mengikutsertakan siswa dalam penggunaan  bahasa yang bersifat fungsional, otentik, dan pragmatik untuk tujuan-tujuan bermakna. Fokus utama bukanlah bentuk bahasa melainkan aspek bahasa yang membuat siswa mampu melaksanakan tujuan bermakna tadi.
3.    Kelancaran dan ketepatan dipandang sebagai prinsip pelengkap yang mendasari teknik komunikatif.
4.    Siswa harus menggunakan bahasa seoptimal mungkin, baik produktif maupun reseptif di konteks luar kelas.
5.    Siswa diberi kesempatan berkonsentrasi terhadap proses belajar mereka sendiri melalui pemahaman terhadap gaya belajar mereka dan melalui pengembanagan strategi tepat untuk belajar sendiri.
6.    Peran guru adalah pemudah dan penuntun, bukan sebagai yang tahu banayak hal.

D.    Langkah-langkah Penyajian
Salah satu prosedur proses belajar mengajar dalam PK dilukiskan oleh Finochiaro dan Brumfit (dalam Huda, 1990) sebagai berikut ;
1.    Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam dialog itu dan situasi dimana dialog itu mungkin terjadi.
2.    Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.
3.    Pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertanyaan serupa tetapi langsung mengenai situasi masing-masing pelajar. Disini kegiatan komunikatif yang sebenarnya telah dimulai.
4.    Kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dalam dialog.
5.    Siswa diharapkan menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam dialog. Guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan.
6.    Pelajar melakukan kegiatan menafsirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari latihan komunikasi yang lebih bebas dan tidak sepenuhnya berstruktur.
7.    Pengajar melakukan evaluasi dengan mengambil sampel dan penampilan pelajar dalam kegiatan komunikasi bebas.

E.    Kekuatan dan Kelemahan
a.    Kekuatan
1.    Pelajar termotivasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat berkomunikasi dengan BT (dalam batas fungsi, nosi, kegiatan berbahasa, dan keterampilan tertentu).
2.    Pelajar lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana, dan strategis.
3.    Suasana kelas hidup dengan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model interaksi dan tingkat kebebasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
b.    Kelemahan
1.    Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunkatif secara memadai dalam BT.
2.    Kemampuan membaca, dalam keterampilan tingkat ambang, tidak mendapatkan porsi yang cukup.
3.    Loncatan langsung ke aktivitas komunikatif bisa menyulitkan siswa pada tingkat permulaan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendekatan komunikatif (al-madkhal al-ittishaliy) dalam pengajaran bahasa merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran keempat ketrampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca serta menulis) yang mengakui interdepensi atau saling ketergantungan antara bahasa dan komunikasi.
Bahasa adalah alat untuk menyatakan alat untuk menyatakan fungsional atau komunikatif. Tata bahasa bukanlah tujuan utama pengajaran bahasa.


DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Ahmad Fuad. 2004. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang: Penerbit Misykat.

Hamid, Abdul. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN Malang Press.

Muradi, Ahmad. 2015. Pembelajaran Menulis Bahasa Arab Dalam Perspektif Komunikatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Syakur, Nazri. 2010. Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Pedagogia.

0 komentar:

Posting Komentar