Pages

Senin, 14 November 2016

Supervisi Pendidikan



BAB I

PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas pendidikan tidak terlepas dari kualitas pendidik pula.

Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus menerus agar dapat melakukan fungsinya secara profesional. Selain itu, pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Karena guru merupakan suatu profesi yang selalu bertumbuh dan berkembang. Pembelajaran yang berkualitas pun berasal dari guru yang berkualitas dan profesional.

Menelusuri krisis pendidikan nasional yang masih kurang bermutu, sukar kita menetapkan salah satu penyebabnya yang pasti, karena akan seperti mengurai benang yang kusut. Sehingga pastinya penelusuran akan sampai pada jantung kegiatan sekolah sebagai dapur kegiatan belajar berada.

Usaha apapun yang telah dilakukan oleh pemerintah mengawasi jalanya pendidikan untuk mendongkrak mutu bila tidak ditindak lanjuti dengan pembinaan gurunya, tidak akan berdampak nyata pada kegiatan layanan belajar dikelas kegiatan pembinaan guru merupakan bagian yang tidak mungkin dipisahkan dalam setiap usaha peninghatan mutu pembelajaran.

Masalah mutu pembelajaran menyangkut masalah yang paling menonjol adalah masalah kualitas mengajar yang dilakukan oleh guru harus mendapatkan pengawasan dan pembinaan terus menerus. Masalah ini behubungan dengan supervisi pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah selaku pemimpin dari guru-guru.

Merefleksi hal tersebut, maka kami sajikan makalah tentang supervisi pendidikan dan pengajaran.

    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.

1.      Apa pengertian, fungsi dan tujuan supervisi pendidikan?

2.      Bagaimana teknik dalam supervisi pendidikan?

3.      Bagaimana prosedur kegiatan supervisi pengajaran?

C.    Tujuan Penulisan Makalah

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1.      Untuk mengetahui pengertian, fungsi dan tujuan supervisi pendidikan.

2.      Untuk mengentahui teknik dalam supervisi pendidikan.

3.      Untuk mengetahui prosedur kegiatan supervisi pengajaran.

D.    Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

E.     Sistematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi:  Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Supervisi Pendidikan

1.      Pengertian Supervisi Pendidikan

Ada bermacam-macam konsep supervisi. Secara historis mula-mula diterapkan konsep supervisi yang tradisional, yaitu pekerjaan inspseksi, mengawasi dalam pengertian mencari kesalahan dan menemukan kesalahan dengan tujuan untuk diperbaiki. Perilaku supervisi yang tradisional ini disebut snooper vision, yaitu tugas memata-matai untuk menemukan kesalahan. Konsep seperti ini menyebabkan guru-guru menjadi takut. Kemudian berkembang supervisi yang bersifat ilmiah, ialah:

a.       Sistematis, artinya dilaksanakan secara teratur, berencana, dan kontinu.

b.      Objektif dalam pengertian ada data yang didapat berdasarkan observasi nyata bukan berdasarkan tafsiran pribadi.

c.       Menggunakan alat pencatat yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses pembelajaran di kelas.

Dalam bukunya Basic Principle of Supervision, Adams dan Dickey mendefinisikan supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran. Program itu pada hakikatnya adalah perbaikan hal belajar dan mengajar.

Dalam Dictionary of Education Good Carter (1959) memberi pengertian bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki penngajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran.

Ada yang melihat supervisi pendidikan dari pandangan yang demokratis, sehingga rumusan supervisi dijelaskan sebagai suatu usaha menstimulasi, mengkoordinasi, dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Dengan demikian mereka dapat menstimulasi dan membimbing pertumbuhan tiap murid secara kontinu serta mampu dan lebih cakap berprestasi dalam masyarakat demokrasi modern.[1]

Neagley (1980:20) dikutip oleh Made Pidarta, mengemukakan bahwa supervisi adalah setiap layanan kepada guru-guru yang bertujuan yang menghasilkan perbaikan instruksional, belajar dan kurikulum, dalam usahanya mencapai tujuan sekolah.

Kimbal Wiles (1956: 8) berpendapat bahwa “supervision is an assitence In the development of a better teaching learning situation”, yaitu suatu bantuan dalam mengembangkan peningkatan situasi belajar.

N.A. Ametembun (1981- 5) merumuskan bahwa supervisi pendidikan adalah pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan. Pendidikan yang dimaksudkan berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.[2]

Berdasakan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada hakikatnya supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan profesional bagi guru-guru. Bimbingan profesional yang dimaksudkan adalah segala usaha yang memeberikan kesempatan bagi guru-guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka   lebih maju lagi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses belajar peserta didik.

2.      Fungsi Supervisi Pendidikan

Fungsi utama pendidikan ditujuan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Dalam Encyclopedia of Education Research, Chester Haris mengemukakan bahwa fungsi utama supervisi ialah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan.[3]

Perbaikan dilakukan berdasarkan hasil penelitian dan penilaian, dalam hal ini supervisor telah mengetahui dan memahami kondisi pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya, serta keadaan berbagai fasilitas pendukung, dana, dan daya upaya yang dipergunakan, apakah baik atau buruk, memuaskan atau tidak, mengalami kemajuan atau tidak, apakah telah mencapai target yang telah ditetapkan, dan sebagainya. Berkaitan dengan kelemahan dan kekurangan, tugas supervisor selanjutnya adalah menvari jalan pemecahan, mengarahkan perbaikan-perbaikan, menignkatkan keadaan, dan melakukan penyempurnaan-penyempurnaan.[4]

Dalam pelaksanaannya, supervisior pendidikan perlu memahami fungsi-fungsi supervisi yang  merupakan tugas pokok sebagai supervisior pendidikan. Fungsi-fungsi utama supervisi pendidikan adalah sebagai berikut.

a.       Menyelenggarakan Inspeksi

Sebelum memberikan pelayanan terhadap guru, supervisor  perlu mengadakan inspeksi terlebih dahulu. Inspeksi tersebut dimaksudkan sebagi usaha mensurvai seluruh sistem pendidikan yanga ada, guna menentukan masalah-masalah, kekurangan-kekurangan, baik pada guru, murid, perlengkapan, kurikulum, tujuan pendidikan, metode mengajar, maupun perangkat lain disekitar keadaan proses belajar mengajar.

Sebagai fungsi supervisor, inspeksi harus bersumber pada data yang aktual dan tidak pada informasi yang sudah kadaluarsa.

b.      Penelitian Hasil Insfeksi Berupa Data

Data tersebut kemudian di olah untuk dijadikan bahan penelitian. Dengan cara ini dapat ditemukan teknik dan prosedur yang efektif sebagai keperluan penyelengaraan pemberian bantuan kepada guru, sehingga supervisi dapat berhasil dengan memuaskan.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam melaksankan supervise sekurang-kurangnya dalah:

Ø  Menemukan masalah yang ada pada situasi belajar mengajar

Ø  Mencoba mencari pemecahan yang diperkirakan efektif

Ø  Mneyusun program perbaikan

Ø  Mencoba cara baru, dan

Ø  Merumuskan pola perbaikan yang ada standar untuk pemakaian yang lebih luas.

c.       Penilaian

Kegiatan penilaian berupa usaha untuk mengetahui segala fakta yang mempengaruhi kelangsungan persipan, penyelenggaraan dan hasil pengajaran.

d.      Latihan

Berdasarkan hasil penilitian kemudian diadakan latihan. Pelatihan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan cara-cara baru sebagai upaya perbaikan atau npeningkatan.

e.       Pembinaan

Pembinaan atau pengembangan merupakan lanjutan dan kegiatan mmeperkenalkan cara-cara baru. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menstimulasi, mengarahkan, memberi semangat agar guru mau menerapkan cara-cara baruyang diperkenalkan sebgai hasil penemuan penelitian, termasuk dalam hal ini membantu guru-guru memcahkan masalah dan kesulitan dengan menggunakan cara-cara baru.[5]

Prosedur pembinaan yang efektif dapat digambarkan melalui lima langkah pokok yang berurutan, yaitu: mengumpulkan informasi, mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, mencari dan menetapkan alternatif pemecahan masalah, danmelaksanakan upaya pemecahan masalah.[6]

Menurut Swearingen dalam bukunya Supervision of Instruvtion- Foundation and Dimension, ada 8 fungsi supervisi:

a.       Mengkoordinasi semua usaha sekolah.

b.      Memperlengkapi kepemimpinan sekolah. Kepemimpinan merupakan suatu ketrampilan yang harus dipelajari dan membutuhkan latihan yang terus-menerus. Salah satu fungsi supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dalam kepemimpinan di sekolah.

c.       Memperluas pengalaman guru-guru. Supervisor harus dapat memotivasi guru-guru untuk mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan. Melalui pengalaman baru ini mereka dapat belajar untuk memperkaya pengetahuan mereka.

d.      Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif. Seorang supervisor harus bisa memberikan stimulus agar guru-guru tidak hanya berdasarkan instruksi atasan, tetapi mereka adalah pelaku aktif dalam proses belajar mengajar.

e.       Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus. Penilaian yang diberikan harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Mengadakan penilaian secara teratur merupakan suatu fungsi utama dari supervisi pendidikan.

f.       Menganalisis situasi belajar-mengajar. Tujuan dari supervisi adalah untuk memperbaiki situasi belajar mengajar. Penganalisisan memberi pengalaman baru dalam menyusun strategi dan usaha ke arah perbaikan.

g.      Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap anggota staf supervisi berfungsi untuk memberikan dorongan stimulasi dan membantu guru agar dapat mengembangkan pengetahuan dalam ketrampilan mengajar.

h.      Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.[7]

3.      Tujuan Supervisi Pendidikan

Tujuan supervisi pendidikan adalah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang baik. N.A. Amentebun (1981: 28) merumuskan tujuan-tujuan supervise pendidikan dengan memperhatikan bebrapa faktor yang sifatnya khusus, sehingga dapat membantu mencari dan menentukan kegiatan supervisi yang lebih efektif. Adapun tujuan-tujuan itu dalah:

a.       Pembina kepala sekolah dan guru-guru untuk lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya dan perana sekolah mencapai tujuan itu.

b.      Memperbesar kesanggupsn kepala sekolah dan guru-guru untuk mempersiapkan peserta didiknya menjadi anggota masyarakat yang efektif.

c.       Membantu kepala sekolah dan guru mengadakan diagnosis secara ktitis terhadapa aktifitas-aktifitasnya dan kesulitan beljar mengjar, serta menolong mereka merencanakan perbaikan-perbaikan.

d.      Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga lainnya terhadap tata kerja yang demokratis dan kooperatif, serta memperbesar kesediaan untuk tolong menolong.

e.       Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu layanannya secar maksimal dalam bidang profesinya (keahlian) meningkatkan ‘achievement motive’.

f.       Membantu pimpinan sekolah untuk mempopulerkan sekolah kepada masyarakat dalam mengmbangkan dalam program-program pendidikan.

g.      Membantu kepala sekolah dan guru-guru untuk dapat mengevaluasi aktifitasnya dalam konteks tujuan-tujuan aktifitas perkembangan peserta didik, dan

h.      Mengembangkan ‘esprit de corps’,  guru-guru, yaitu adanya rasa kesatuan dan persatuan (kolegealitas) antar guru-guru.[8]

Kata kunci dari supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru, maka tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang dilakukan guru di kelas. Dengan demikian jelas bahwa tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga untuk pengembangan potensi kualitas guru. Pendapat ini sesuai apa yang dikemukakan Olive bahwa sasaran (doamain) supervisi pendidikan ialah:

a.       Mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan di sekolah.

b.      Meningkatkan proses belajar-mengajar di sekolah.

c.       Mengembangkan seluruh staf di sekolah.[9]

B.     Teknik dalam Supervisi Pendidikan

Berbagai teknik dapat digunakan supervisor dalam membantu guru-guru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok (group techniques), maupun secara perorangan (individual techniques), ataupun dengan cara langsung atau bertatap muka, dan cara tak langsung atau melalui media komunikasi (visual, audial, audio-visual).

Beberapa teknik supervisi yang dapat digunakan supervisor pendidikan antara lain:

1.      Kunjungan dan Observasi Kelas

Kunjungan kelas secara berencana untuk dapat memperoleh gambaran tentang kegiatan belajar mengajar dikelas. Melalui teknik ini kepala sekolah dapat mengamati secara langsung kegiatan guru dalam melakukan tugas utamanya, mengajar, penggunaan alat, metode, dan teknik mengajar secara keseluruhan dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Hasil observasi kelas ini dapat digunakan oleh supervisor bersama guru untuk menentukan cara-cara yang paling tepat untuk memperbaikik dan meningkatkan kondisi belajar-mengajar.

2.      Pembicaraan Individual

Pertemuan pribadi antara supervisor dengan guru untuk membicarakan masalah-masalah khusus yang dihadapi guru.

3.      Diskusi Kelompok

Rapat antara supervisor dengan para guru di sekolah, biasanya untuk membicarakan masalah-masalah umum yang menyangkut perbaikan dan atau peningkatan mutu pendidikan.

4.      Demonstrasi Mengajar

Demonstrasi mengajar ialah proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh seorang guru yang memiliki kemampuan dalam hal mengajar sehingga guru lain dapat mengambil hikmah dan manfaatnya. Demonstrasi mengajar bertujuan untuk memberi contoh bagaimana cara melaksanakan proses belajar-mengajar yang baik dalam penyajian materi,  penggunaan pendekatan, metode, media pembelajaran.

5.      Perpustakaan Profesional

Ciri profesional seorang guru antara lain tercermin dalam kemauan dan kemampuannya untuk belajar secara terus dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki tugas utamanya, yaitu mengajar. Guru hendaknya menjadikaan belajar sebagi kebutuhan hidupnya. Untuk itu dibutuhkan buku perpustakaan sesuai dengan bidang ilmu atau kajian setiap guru.[10]

6.      Kunjungan antar kelas atau antar sekolah merupakan suatu kegiatan yang terutama untuk saling menukarkan pengalaman sesama guru atau kepala sekolah tentang usaha-usaha perbaikan dalam proses balajar mengajar.

7.      Pertemuan-pertemuan di kelompok kerja penilik, kelompok kerja kepala sekolah, serta pertemuan kerja guru, pusat kegiatan guru dan sebagainya. pertemuan-pertemuan tersebut dapat dilakukan oleh masing-masing kemompok kerja atau gabungan yang terutama dimaksudkan untuk menemukan masalah, mencari alternatif penyelesaian, serta menerapkan alternatif masalah yang tepat.[11]

C.    Prosedur Kegiatan Supervisi Pengajaran

Secara keseluruhan, menurut Moh. Riva’i, prosedur supervisi pendidikan dapat dijabarkan sebagai berikut:

1.      Pengumpulan data

Dalam pengumpulan data, supervisor harus mendapatkan dara tentang keseluruhan situasi belajar mengajar dari murid, guru, program pengajaran, alat atau fasilitas dan situasi. Cara atau teknik pengumpulan data-data tersebut dapat dilakukan dengan observasi atau kunjungan kelas, pertemuan pribadi , studi laporan dan dokumen serta menyebarkan kuisioner atau angket.

2.      Penyimpulan atau penilaian

Dalam prosedur penyimpulan atau penilaian harus memuat tentang keberhasilan murid, keberhasilan guru dan faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam proses belajar mengajar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menentukan kriteria penilaian bersama, pertemuan pribadi dan diskusi antar guru.

3.      Diskusi kelemahan

Dalam prosedur supervisi ini, kekurangan atau kelemahan mengenai pribadi guru di depan kelas, penguasaan materi, penguasaan metode, hubungan antara personil dan administrasi kelas dapat dianalisis dengan cara melakukan pertemuan pribadi, rapat staf dan konsultasi dengan nara sumber atau ahli.

4.      Memperhatikan kelemahan dan meningkatkan kemampuan guru

Setelah kekurangan atau kelemahan guru didiskusikan dan telah dikemukakan bersama, maka seorang supervisor harus segera menindaklanjutinya dengan memperhatikan guru yang bersangkutan dengan maksud menungkatkan kemampuan guru tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperoleh informasi secara langsung dari sumber terdekat dan penataran. Guru tersebut juga bisa diikutsertakan dalam program kunjungan antar kelas atau interschool visit demi memperlihatkan cara ajar guru di kelas atau di sekolah lain.

5.      Bimbingan dan pengembangan

Tahap ini merupakan pengembangan dari prosedur sebelumnya, dimana dalam tahap ini guru akan menerapkan hasil usaha dan penataran yang telah dilakukan.

6.      Penilaian kemajuan

Penilaian dilakukan dalam hal perubahan yang telah dicapai guru sebagai hasil peningkatan dan bimbingan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara kunjungan kelas langsung, pertemuan pribadi, observasi dan diskusi.[12]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan profesional bagi guru-guru. Bimbingan profesional yang dimaksudkan adalah segala usaha yang memeberikan kesempatan bagi guru-guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka   lebih maju lagi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses belajar peserta didik.

Fungsi-fungsi utama supervisi pendidikan adalah menyelenggarakan inspeksi, penelitian hasil insfeksi berupa data, penilaian, latihan, dan pembinaan.

Tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga untuk pengembangan potensi kualitas guru.

Teknik-teknik dalam supervisi pendidikan kunjungan dan observasi kelas, pembicaraan individual, diskusi kelompok, demonstrasi mengajar, perpustakaan profesional.

Prosedur supervisi pengajaran yaitu pengumpulan data, penyimpulan atau penilaian, diskusi kelemahan, memperhatikan kelemahan, bimbingan dan pengembangan dan penilaian kemajuan.

DAFTAR PUSTAKA

Djudju, Sudjana. 2004. Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Falah Production.

Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Riduwan. 2010. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sahertian, Piet. 2000. Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

[1] Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 16.

[2] Riduwan, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 312.

[3] Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan....., hlm. 21.

[4] E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 158.

[5] Riduwan, Manajemen Pendidikan....., hlm. 313.

[6] Sudjana Djudju, Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Bandung: Falah Production, 2004), hlm. 236-237.

[7] Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan....., hlm. 21

[8] Riduwan, Manajemen Pendidikan....., hlm. 316.

[9] Piet Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan....., hlm. 19

[10]  E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah....., hlm. 160-162

[11] Riduwan, Manajemen Pendidikan....., hlm. 316

[12]  Riduwan, Manajemen Pendidikan....., hlm. 319

Kamis, 10 November 2016

Makalah Pendekatan komunikatif

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa arab bagi bangsa Indonesia tidak dianggap sebagai bahasa asing layaknya bahasa Inggris. Khususnya di kalangan orang Islam bahasa arab tidak asing didengar. Al-qur’an dn Hadits sebagai sumber hukumnya pun berbahasa arab sehingga pembelajarannya pun menjadi hal yang penting.
Banyak guru bahasa arab yang mahir dalam berbahasa aarab tetapi kurang menguasai kelas dan kurang mampu menciptakan suasasan kelas yang aktif dan kreatif. Untuk meningkatkan kulaitas pembelajaran bahasa arab, guru harus mempunyai pendekatan, metode, dan teknik tertentu. Penguasaan pengelolaan ini yang disebut kompotensi pedagokik. Guru perlu menciptakan suasana kelas yang aktif dan kreatif.
Merefleksi hal tersebut, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa arab adalah pendekatan komunikatif yang akan dipaparkan dalam makalah ini.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1.    Bagaimana latar belakang munculnya pendekatan komunikatif?
2.    Bagaimana asumsi bahasa menurut pendekatan komunikatif?
3.    Apa saja karakteristik pendekatan komunikatif?
4.    Bagaimana langkah-langkah penyajian pendektan komunikatif?
5.    Apa saja kekuatan dan kelemahan metode komunikatif?
C.    Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.    Untuk mengetahui latar belakang munculnya pendekatan komunikatif.
2.    Untuk mengetahui asumsi bahasa menurut pendektan komunikatif.
3.    Untuk mengetahui karakteristik pendekatan komunikatif.
4.    Untuk mengetahui langkah-langkah penyajian pendekatan komunikatif.
5.    Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan metode komunikatif.
D.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
E.    Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi:  Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang
Pada dekade 1960-an, teori linguistik struktural yang mendasari pendekatan aural-oral ditolak di Amerika Serikat. Noam Chomsky, seorang pakar linguistik Amerika Serikat yang sangat terkenal, mengalamatkan kritiknya yang tajam terhadap linguistik struktural yang dimuat dalam bukunya Syntactic Structure. Dalam buku tersebut, Chomsky secara lugas menunjukan bahwa teori bahasa struktural standar saat itu terbukti tidak mampu menjelaskan karakteristik bahasa yang fundamental, kreativitas, dan keunikan setiap kalimat.
Pendekatan komunikatif lahir dari situasi pengajaran bahasa di Inggris. Pendekatan ini berakar pada tradisi linguistk dan prinsip-prinsip pengajaran yang berkembang di Eropa, kemudian landasan-landasan teoritisnya diperkuat dengan teori belajar yang dikembangkan di Amerika Utara. Dua faktor utama berpengaruh terhadap lahir dan berkembangnya pendekatan ini, yaitu surutnya popularitas metode lisan dan situasional di Inggris karena kecaman Chomsky dan makin eratnya kerja sama antara negara-negara Eropa dalam bidang kebudayaan dan pendidikan.
Chomsky mengkritik penggunaan teori behaviorisme untuk pelajaran bahasa. Dalam hal ini Chomsky menandaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, melainkan juga faktor internal. Setiap manusia memiliki innate ability, yaitu kemampuan belajar bahasa yang dibawa sejak lahir. Kemampuan bawaan ini disebut alat pemerolehan bahasa (language acquisition device (LAD)  جهار اكتساب اللغة)). Chomsky mempersoalkan relevansi dari aktivitas peniruan, pengulangan, rangsangan, dan penguatan, yang menjadi fokus perhatiaan behaviorisme.
Kecaman-kecaman Chomsky ini menyetak perhatian para ahli dan praktisi pelajaran bahasa dan mendorong mereka untuk mengevaluasi konsep-konsep pengajaran bahasa yang berlaku selama ini. Sejalan dengan nahirnya teori kognitivisme dalam psykologi, teori tata bahasa transformasi-generatif dalam linguistic, dan teori LAD dalam psyko-linguistik, muncullah beberapa pendekatan dan metode dalam pembelajaran bahasa, antara lain cognitive code learning (metode kognitif kode), silent way (metode diam), suggestive-accelerative learning and teaching- SALT (metode pembelajaran akseleratif-suggestif), the natural Approach (pendekatan alamiah), dan yang terakhir paling popular adalah The Communicative Approach (pendekatan komunikatif).

B.    Asumsi
Metode komunikatif didasarkan atas asumsi bahwa setiap manusia memiliki kemampuan bawaan yang disebut dengan “alat pemerolehan bahasa” (language acquisition device). Oleh karena itu kemampuan berbahasa bersifat kreatif dan lebih ditentukan oleh faktor internal. Oleh karena itu relevansi dan efektivitas kegiatan pembiasaan dengan model latihan stimulus-respense-inforcement dipersoalkan.
Asumsi berikutnya ialah bahwa penggunaan bahasa tidak hanya terdiri atas empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis), tapi mencakup beberapa kemampuan dalam kerangka kominikatif yang luas, sesuai dengan peran dari partisipan, situasi dan tujuan interaksi.
Asumsi yang lain ialah bahwa belajar bahasa kedua dan bahasa asing sama seperti belajar bahasa pertama, yaitu berangkat dari kebutuhan dan minat pelajar. Oleh karena itu analisis kebutuhan dan minat pelajar merupakan landasan dalam pengembangan materi pelajaran.
Pandangan komunikatif tentang bahasa adalah bahwa bahasa merupakan sistem untuk menyatakan makna serta mengadakan interkasi dan komunikasi. Disamping itu, struktur bahasa menunujukkan penggunaannya secara fungsional dan komunikatif. Elemen utama dalam bahasa bukanlah strukturnya melainkan makna fungsional dan komunikatif seperti yang dimaksud dalam ujaran.
Panowo, mengutip pendapat Das (1985), mengajukan alternatif asumsi teoritis pendekatan komunikatif yang berhubungan dengan hakikat bahasa dan bagaimana orang mempelajari bahasa. Asumsi tersebut adalah:
a.    Bahasa adalah seperangkat kaidah yang harus dikuasai oleh siswa.
b.    Bahasa adalah beberapa kaidah tata bahasa yang menentukan bagaimana kalimat harus disusun dan dapat mewadahi makna.
c.    Siswa harus memiliki sejumlah kata agar dapat menyusun berbagai ragam kalimat.
d.    Jika siswa telah menguasai kaidah ketatabahasaan, ia akan dapat menggunakan bahasa dalam berbagai kegiatan komunikasi.
e.    Kaidah tata bahasa, baik secara sadar maupun ambang sadar, dapat dipelajari secara induktif.
f.    Berbagai pengetahuan mengenai kaidah ketatabahasaan, baik secara sadar maupun ambang sadar, dapat diinternalisasikan sebelum pengetahuan kaidah tersebut digunakan untuk berkomunikasi.
g.    Kaidah ketatabahasaan dipelajari dan diinternalisasikan secara berurutan dalam satu waktu ataupun pada waktu yang berbeda.

C.    Karakteristik
Kelahiran PK merupakan hasil dari sejumlah kajian tentang pemerolehan bahasa (iktisab al-lughah) dan berbagagai penelitian mengenai metode pembelajaran bahasa di Eropa dan Amerika pada 70-an. Meskipun terdapat beberapa variasi dalam penerapan PK, namun karakteristik dasarnya tetap sama.
1.    Tujuan pengajarannya ialah mengembangkan kompetensi pelajar berkomunikasi dengan bahasa target dalam konteks komunikatif yang sesungguhnya atau dalam situasi kehidupan yang nyata. Tujuan PK tidak ditekankan pada penguasaan gramatika atau kemampuan kalimat gramatikal, melainkan pada kemampuan memproduk ujaran yang sesuai dengan konteks.
2.    Salah satu konsep yang mendasar dari PK adalah kebermaknaan dari setiap bentuk bahasa yang dipelajari dan keterkaitan bentuk, ragam, dan makna bahasa dengan situasi dan konteks berbahasa itu.
3.    Dalam proses belajar-mengajar, siswa bertindak sebagai komunikator yang berperan aktif dalam aktivitas komunikatif yang sesungguhnya. Sedangkan pengajar memprakarsai dan merancang berbagai pola interaksi antar siswa, dan berperan sebagai fasilitator.
4.    Aktivitas dalam kelas diwarnai secara nyata dan dominan oleh kegiatan-kegiatan komunikatif, bukan dril-dril manipulatif dan peniruan-peniruan tanpa makna (tadrib babgha’iy).
5.    Materi yang disajikan bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku teks, tetapi lebih ditekankan pada bahan-bahan otentik (berita Koran, iklan, menu, KTP, SIM, formulir, dan sejenisnya). Dari bahan-bahan otentik tersebut, pemerolehan bahasa pelajar diharapkan meliputi bentuk, makna, fungsi, dan konteks sosial.
6.    Penggunaan bahasa ibu dalam kelas tidak dilarang tetapi diminimalkan.
7.    Dalam PK, kesiapan siswa ditoleransi untuk mendorong keberanian siswa berkomunikassi.
8.    Evaluasi dalam PK ditekankan pada kemampuan menggunakan bahasa dalam kehidupan nyata, bukan pada penguasaan struktur bahasa atau gramatika.
Sedangkan karakteristik pendekatan komunikatif menurut Brown yaitu:
1.    Tujuan kelas terfokus pada semua komponen kompetensi komunikatif (gramatikal, wacana, fungsional, sosio-linguistik, dan strategi).
2.    Teknik-teknik bahasa dirancang untuk mengikutsertakan siswa dalam penggunaan  bahasa yang bersifat fungsional, otentik, dan pragmatik untuk tujuan-tujuan bermakna. Fokus utama bukanlah bentuk bahasa melainkan aspek bahasa yang membuat siswa mampu melaksanakan tujuan bermakna tadi.
3.    Kelancaran dan ketepatan dipandang sebagai prinsip pelengkap yang mendasari teknik komunikatif.
4.    Siswa harus menggunakan bahasa seoptimal mungkin, baik produktif maupun reseptif di konteks luar kelas.
5.    Siswa diberi kesempatan berkonsentrasi terhadap proses belajar mereka sendiri melalui pemahaman terhadap gaya belajar mereka dan melalui pengembanagan strategi tepat untuk belajar sendiri.
6.    Peran guru adalah pemudah dan penuntun, bukan sebagai yang tahu banayak hal.

D.    Langkah-langkah Penyajian
Salah satu prosedur proses belajar mengajar dalam PK dilukiskan oleh Finochiaro dan Brumfit (dalam Huda, 1990) sebagai berikut ;
1.    Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam dialog itu dan situasi dimana dialog itu mungkin terjadi.
2.    Latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.
3.    Pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertanyaan serupa tetapi langsung mengenai situasi masing-masing pelajar. Disini kegiatan komunikatif yang sebenarnya telah dimulai.
4.    Kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dalam dialog.
5.    Siswa diharapkan menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam dialog. Guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan.
6.    Pelajar melakukan kegiatan menafsirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari latihan komunikasi yang lebih bebas dan tidak sepenuhnya berstruktur.
7.    Pengajar melakukan evaluasi dengan mengambil sampel dan penampilan pelajar dalam kegiatan komunikasi bebas.

E.    Kekuatan dan Kelemahan
a.    Kekuatan
1.    Pelajar termotivasi dalam belajar karena pada hari pertama pelajaran, langsung dapat berkomunikasi dengan BT (dalam batas fungsi, nosi, kegiatan berbahasa, dan keterampilan tertentu).
2.    Pelajar lancar berkomunikasi, dalam arti menguasai kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana, dan strategis.
3.    Suasana kelas hidup dengan aktivitas komunikasi antar pelajar dengan berbagai model interaksi dan tingkat kebebasan yang cukup tinggi, sehingga tidak membosankan.
b.    Kelemahan
1.    Memerlukan guru yang menguasai keterampilan komunkatif secara memadai dalam BT.
2.    Kemampuan membaca, dalam keterampilan tingkat ambang, tidak mendapatkan porsi yang cukup.
3.    Loncatan langsung ke aktivitas komunikatif bisa menyulitkan siswa pada tingkat permulaan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pendekatan komunikatif (al-madkhal al-ittishaliy) dalam pengajaran bahasa merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran keempat ketrampilan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca serta menulis) yang mengakui interdepensi atau saling ketergantungan antara bahasa dan komunikasi.
Bahasa adalah alat untuk menyatakan alat untuk menyatakan fungsional atau komunikatif. Tata bahasa bukanlah tujuan utama pengajaran bahasa.


DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Ahmad Fuad. 2004. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, Malang: Penerbit Misykat.

Hamid, Abdul. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab. Malang: UIN Malang Press.

Muradi, Ahmad. 2015. Pembelajaran Menulis Bahasa Arab Dalam Perspektif Komunikatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Syakur, Nazri. 2010. Revolusi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Yogyakarta: Pedagogia.